Saturday, July 29, 2017

JIM DAN PENA

      Sorotan kamera aku fokuskan pada titiknya. Kebetulan, di bulan Maret ini aku diberi tugas untuk memotret anak jalanan, guna laporan pemotretanku di salah satu pelajaran mata kuliah. Aku Sebagai anak Jurnalistik melakukan hal ini, adalah kekecewaan besar bagiku. Mata ini panas melihat teman-teman sekelasku diberi tugas nyaman dan santai. Sedangkan aku? Rasanya tidak adil, jika kalau harus panas-panasan di ibukota mencari anak-anak busung lapar itu.

Rimbunan pohon tidak ada lagi di pupil mataku, terang benderang panas, matahari menyorot. Yang ada kemacetan, polusi yang sesekali membuat kulitku terbakar, serta suara klaskson yang memecahkan gendang telinga. Karena Jakarta siang bolong ini, membuatku selalu menepiskan keluhan yang tiada habisnya.
Kenapa aku harus ditugaskan seperti ini? Apa tidak ada kerjaan lain? teman-temanku enak diberi tugas sekedar luntang lantung! Sedangkan aku? Apa ini?. Batinku bergerutu bak nenek-nenek tidak diberi uang. Kaki pun ikut menendang batu-batu kerikil kecil di tanah.

Ditengah tengah siang bolong yang membakar kulit, ditambah dengan keramaian ibukota jakarta, aku terpekik diam mendengar gerungan suara yang membuatku ragu untuk melanjutkan langkahku lagi.

Aaushshskhd . Suara yang tidak jelas itu sepertinya muncul di sungai kecil yang tertutupi oleh pohon jati yang tidak padat. Aku memberanikan mengintip dari jauh. Terpampang jelas seorang anak kecil laki-laki berpakaian agak lusuh sedang memandangi air sungai itu. Sontak saja fikiranku langsung mengira 'wah ini pasti pengamen jalanan anak Jakarta' tapi aku juga takut dia ternyata orang gila.

“Dek lagi apa? Kenalin kakak,” Aku menghampirinya dan menjulurkan tanganku untuk berkenalan denganya terlebih dahulu, sekedar basa-basi.
Tapi antah berantah, anak itu malah menjauh dariku. Langkah demi langkah mundur, menatapku penuh ketakutan.
“Tenang dek, kakak orang baik kok. Kakak boleh ya ngambil foto kamu? Buat tugas kakak.” Kataku, tidak menjelaskan secara detail untuk apa aku mengambil fotonya. Perlahan aku mendekatinya, dan membalas tatapan tajamya dengan senyuman manisku. Akhirnya dia mengangguk, dan aku segera mengeluarkan kamera SLDRku.

Hasil fotonya terpampang pada kamera, foto anak kecil laki-laki yang memang tampan, berkulit putih. Andai saja penampilanya seperti anak yang lainya, pasti dia terlihat keren dan gagah, bahkan pikirku dia bisa menjadi model majalah.
“Makasih ya dek, nih buat kamu makan siang.”
Aku memberikan sekantong plastik nasi padang dengan lauk pauknya, dia mengangguk lagi, kali ini senyum menepis dari bibirnya yang mungil.
“Kakak pergi ya,”Aku beranjak dari posisi jongkok untuk berdiri, leherku perlahan memutar melenyapkan wajah anak itu. Langkah demi langkah aku pergi. Terpikirkan juga olehku, sesuaatu yang aneh, mengapa dia tidak berbicara sedikitpun? Rasa iba dan penasaran pun perlahan muncul dalam hati. Setelah beberapa langkah aku tengok ke arahnya lagi, masih saja dia menatapku nanar. Aku kembali menghampiri.
“Dek, kaka lupa kan kita belum kenalan. Nama kakak Riyani, kamu siapa?,” Aku menjulurkan tanganku lagi, dia juga. Belum ada suara keluar dari mulutnya. Badanya beranjak lari, mataku mengejar pandangan, dia lari kearah gerobak yang ada di bawah pohon dekat sungai. Aku yang hendak beranjak mengejar, terpaksa mematung kembali melihat tingkah anehnya, dia kembali membawa selembar kertas dan menulis dengan pensil yang pendek lalu memberikanya padaku.

Namaku Jim kak. Makasih nasi nya, salam kenal kak, umurku 7 tahun.
Begitulah tulisanya, sontak saja aku megertukan dahiku. Kagum ! Tulisanya rapi, seperti anak SMP-an.

“Kamu kenapa gak bicara sama sekali dek? Gausah malu malu sama kakak.” kataku bingung, masih belum ada suara ,”maaf kamu,” jariku menunjuk mulutku sambil bergidik mengisyaratkan 'kamu gak bisa bicara ya?' Seperti itu kalau kasarnya. Dia mengangguk lagi. Ternyata Jim si bocah cerdas yang tuna wicara, dengan media tulis adalah cara dia untu berbicara. Aku fikir aku terlalu bertanya lebih, aku takut membuatnya sedih.
“Maaf ya,”
“Kamu tinggal dimana?,” tanyaku semakin penasaran, mataku sudah mulai berkaca-kaca menahan pilu, ikut merasakan kegetiran yang dideritanya. Tanganya menunjuk-nujuk ke arah gerobak itu, terlihat dari sini gerobak itu berisi sampah-sampah Aqua. Kaki ku penasaran dan menghampiri gerobak itu, kotor dan lusuh. Tanganku liar memegang-megang apa yang ada di dalam gerobak itu, memandangi sambil merenungi dengan air mata yang mulai menetes. Aku menemukan foto keluarga, didalam foto itu ada foto Jim dan ibu bapaknya, aku memandanginya lagi, dia menggelangkan kepalanya 'ibu dan ayahku meninggal kecelakaan'. Sesak dada rasanya melihat anak ini, entah seperti apa aku membayangkan nasibnya, kerjaan Jim hanya memulung, tidak seperti anak-anak yang lainya sedang bermain dan belajar. Air semakin membajir di pipiku, aku memeluk Jim dengan erat, dia menangis menggerung-gerung, bukan karena hidupnya yang sekarang, tapi dia hanya rindu kepada kedua orangtua nya.
*********
“Doain kakak yah biar cepet lulus kuliahnya,” Pintaku. Malam ini aku mengajak Jim makan malam, dia terlihat begitu lahap, senang sekali melihatnya. Anak cerdas yang kuat. Meski selalu mengangguk, aku percaya hatinya berbicara dan mendoakan.

BRAAKKKKK...
Suara benda jatuh itu memberhentikan aku yang sedang mengunyah. Jim mengambil benda itu,
“Jim apa itu? Kamu bawa buku? Kok banyak tulisanya? Boleh kakak lihat?” Pintaku, dia segera memasukanya kedalam tas mungilnya. Mungkin artinya aku tak boleh melihatnya. Sudahlah aku tak mau mencampurinya.
“Kamu tinggal dirumah kakak saja ya, tinggal sama kakak, mau ya?” Awalnya aku mengajak Jim untuk tinggal bersamaku, sebagai imbalan aku boleh mengambil fotonya, namun aku tau Jim anak yang kuat, siapa tau Allah mengirimkan Jim kepadaku sebagai Penyemangatku.

Aku gak mau kak, aku takut merepotkan
“Nggak kok, Inshallah kakak bisa jadi kakak buat kamu,” Paksaku halus, dalam batinku tidak mau kalau sampai Jim pergi tidur di tempat sampah seperti itu. Dan akhirnya Jim menerima
*******
Malam dimakan hening, jam dinding menunjukan pukul 23.00 WIB. Aku masih duduk berkutat dengan tugas-tugasku perihal foto anak jalanan itu. Aku yang sedang bersama Jim di kamar, kutengok Jim di ranjang, dia masih menulis di buku yang sepertinya tadi jatuh saat makan malam.
“Jim? Cepat tidur, sudah malam, kamu kan capek,” kulihat matanya sayu, sudah 5 watt.
Dia langsung beranjak membenahi buku nya, dan membalutkan selimut ke seluruh badanya.

Sudah beresssss. Alhamdulillah tugas sudah terselesaikan, tinggal mencetak di printer untuk merapihkan kembali. Aku tersenyum melihat Jim tidur begitu pulas, terlihat dari wajahnya yang selalu tersenyum kuat. Kulirik samping meja belajarku ada buku yang Jim selalu sembunyikan dariku, aku terpaksa ingin mengetahui, sebenarnya buku apa itu?. Perlahan aku membukanya, awal lembaran berisi kata-kata mutiara yang sangat indah, serta beberapa biodata seputar hidup. Lembar demi lembarnya aku terus baca, Jim sangat pintar menulis, dan tulisanya sangat menggugah hati bagi pembacanya, banyak puisi-puisi yang dia tulis. Dia sangat cerdas merangkai kata-kata, melebihi usia seharusnya.

Ya Allah apakah ini titipan dari Syurgamu untuk di dunia?
Hati teriris, terharu, apalagi ketika lembar selanjutnya aku membaca,

Aku senang sekali karena Allah sangat baik kepadaku. Aku tidak bisa bicara, tapi Allah beri aku mata untuk melihat, Hidung untuk mencium, telinga bisa mendengar, kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang. Sungguh banyak organ tubuh yang belum aku sebutkan. Walapun aku mempunyai kekurangan tidak bisa bicara, tapi Alhamdulillah aku masih punya hati untuk mendoakan orang-orang baik. Aku sayang ibu dan Ayah. Ya Allah aku titip mereka.

Coretan tinta itu membuatku tersengguk-sengguk menangis, menyadari betapa hina nya aku ketika aku tidak bersyukur terhadap nikmatNYA, termasuk apa yang aku keluhkan tadi siang. Aku sangat bodoh jika masih saja mengeluh, merintih menyesal. Jim terbangun mendengarku menangis, aku memeluk Jim erat dan berjanji akan menjaga Jim sampai ajal menjemput.

No comments:

Post a Comment